Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

Hijab

By Eman Ada lima orang buta, bersama pengantarnya, pergi ke kebun binatang. Saat ini mereka berada di depan seekor gajah. Masing-masing dari mereka memegang salah satu bagian tubuh gajah tersebut. (Sebut aja nama mereka adalah A, B, C, D, E). Si A yang memegang bagian belalainya, berkata dalam hatinya bahwa bentuk gajah itu seperti selang air yang besar. Si B yang memegang bagian telinganya, batinnya berkata bahwa bentuk gajah adalah seperi daun yang sangat lebar.. Si C yang memegang bagian badannya merasakan bahwa gajah adalah serupa tembok tinggi tetapi empuk. Si D yang memegang bagian kakinya yakin bahwa gajah adalah bagaikan tiang rumah. Si E yang memegang bagian ekornya berkesimpulan bahwa gajah seperti sebuah pecut yang meliuk liuk. Ketika kembali ke rumah, mereka pun membawa kesan masing-masing akan bentuk gajah. Suatu saat, ALLAH berkehendak mereka berlima kembali dapat melihat. Hal yang pertama mereka lakukan adalah kembali melihat gajah. Tanpa pengantar, mereka pun berangkat

Racun Itu .......

By Eman Baso pakai Borax. Ikan pakai Formalin. Bakwan pake Baking Soda. Daging ayam TIREN (Mati kemaren). Daging sapi Gelonggongan. Warna makanan pakai Rhodamin (pewarna pakaian). Pemanis pakai Sacharin. Sayur-sayuran dan buah-buahan disemprot pakai anti hama. Masih banyak lagi.... Begitu banyak racun yang kita masukkan kedalam tubuh. Bukannya tidak tahu mengenai keberadaan mereka, tetapi kita tidak mau memperhatikan akibat yang akan ditimbulkan nantinya. Alasannya klise: "Kalau takut-takut, mau makan apa?" "Semuanya juga begitu" "Abis enak" "Murah sih" Dll... Begitu terjadi hal-hal yang memang sudah diperkirakan, maka terkejutlah kita. Nasi sudah menjadi bubur. Ini juga berlaku bagi kehidupan kita. Saat orang meninggalkan sholat, membaca Al Qur-an, berpuasa, zakat, menuntut ilmu, dll. Bahkan perbuatan-perbuatan buruk yang mengandung dosa malah diperbuat. Selalu hal yang klise dikedepankan : "Sibuk, ah" "Tanggung lagi kerja" &

Sepenggal Rasa

(Untuk saudara-saudaraku nun jauh disana, tetaplah istiqomah) Pecinta selalu berusaha mendapatkan yang dicintainya Pecinta selalu bekerja keras untuk kecintaannya Pecinta selalu khusu' merangkai semua cinta-cintanya Pecinta pasti hamba dari cintanya Pecinta harta benda Siang malam tiada bedanya Kebahagian hanyalah semu semata Ketika mati tidaklah dibawa Pecinta keluarga dan sanak saudara Banting tulang tiada terkira Masalah ibadah ditinggalnya lupa Saat meninggal, mereka tak ikut serta Sungguh iba pada keduanya Usaha dan bekerja tiadalah guna Kenyataan dari yang dicintainya Tidak ikut serta kemana pun jua Sungguh beruntung Pecinta yang ketiga Pecinta karena dasar taqwa Kecintaannya kepada ALLAH Ta'ala Isi dalam kehidupan jelas terasa Pecinta ini bukanlah karena hawa Juga bukan nafsu belaka Sungguh jauh dirinya dari dosa Apalagi pekerjaan yang sia-sia Sungguh indah hidupnya Berbekal keridhoan melintas dunia Bersama amal sholih meninggalkan yang fana Merengkuh jannah bertemu Cint

Bulan Mubarrok

Sbentar lagi bulan Romadhon. Bulan yang dimana kebanyakan orang mengalami laper perut, laper mulut, dan laper syahwat yang lebih dari bulan lainnya. Laper Perut Walaupun sudah sahur 2 bakul 4 piring 2 mangkok, asal jam 11 siang, perut sudah kukuruyuk. Jam 12 ngikut sholat Dzuhur berjama'ah dengan niat abis sholat mau langsung tidur berjama'ah, rebahan sembari merem-merem ayam terus saingan dengkuran. Kan kata pak Ustadz juga tidur di bulan Romadhon nilainya ibadah (He... He... He... alesan yang nikmat). Jam setengah dua bangun tidur siang, kepala pusing karena laper and kebanyakan tidur. Gimana nggak, coba? Abis Shubuh tidur, abis Dzuhur tidur juga. Bangun tidur terus berhitung sekaligus merencanakan perburuan buat nanti sore. Es kelapa, es campur, kolak pisang, cendol, krupuk mie, mie goreng, semuanya kudu disiapin buat bukaan. Buat abis maghrib, daging rendang atau daging ayam, sayur sop atau soto daging, gak lupa buah-buahan (padahal kalo bukan romadhon gak ada tuh). Abis Te

Tipuan

Malas... Aku malas untuk nge-blog. Aku malas untuk nulis-nulis. Aku malas untuk ngeluarin isi fikiran dalam tulisan. Aku malas untuk menghilangkan rasa malasku ini... Malas...

Sebanding

Tahu jalan tol? Orang menyebutnya juga sebagai jalan bebas hambatan. Walaupun kenyataannya sekarang juga suka macet, bahkan lebih macet dari jalan bukan tol. Bukan masalah macet di jalan tol yang akan kita paparkan saat ini. Biar saja, itu ada instansi yang terkait yang harus memikirkan solusi tepat agar jalan tol dapat kembali sebagai jalan bebas hambatan. Bukannya nggak mau ikut mikirin sih, takut ntar disebut sok pinter. Disono kan banyak orang yang lebih pinter dari kita yang lebih tahu sikon nya. Untuk menggunakan jalan tol, kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bayar penggunaan tersebut. Biasanya dibayarkan pada akan memasuki atau keluar jalan tol pada gerbang yang sudah tersedia. Tetapi sekali lagi bukan cara bayarnya yang akan kita bahas pada saat ini. He… He… He… Sudah pegel bacanya, ya? Kita akan memaparkan keadaan jalan tol dalam situasi seharusnya/ normal. Apabila kita masuk ke jalan tol, maka akan kita lalui jalan yang relatif lurus, rata, dan lancar. Kita dapat me

SMG BS BCX...............

Katanya temen, ngomongnya sahabat, ngakunya saudara, tetapi kalau kirim kabar suka pake ngehina dulu, ngatain, ngeledek. Siapa yang nggak ngurut dada, mijit kepala, sesak nafas, kalau tiap dikirim kabar dikatain dulu. Padahal tuh orang-orang tersebut katanya orang terpelajar, terhormat, berwawasan, agamis. Yang saya tau sih begitu…. Ada yang pejabat pemda, sesepuh wilayah, pejabat kantor, keamanan, ustadz, kyai, dan lain lain. Coba aja, siapa yang seneng begitu dikirimin kabar, sebelumnya di (ma’af) pantat-pantatin. Dikirimin SMS dimulai dengan kata-kata “Ass….” Kalau memang benar orang terpelajar, terhormat, berwawasan, pasti tahu kata-kata “Ass…” dalam bahasa Inggris adalah (maaf lagi) PANTAT. Memang sih mungkin tujuannya baik, mau ngehormatin, tapi kan nggak pantes ngehormatin sambil ngatain. Sama aja dengan cerita 2 kawan yang lama tidak bersua, lalu berjumpa di suatu tempat. Saking kangennya, mereka bersalaman sambil pukul-pukulan, gebuk-gebukan. Kan nggak bener itu. Bukannya men

Memperlihatkan Dalam Beribadah

Ibadah sudah seharusnya diperlihatkan, dipertontonkan, dan dipertunjukkan. Sehingga dapat dipastikan bahwa kita sedang ibadah.Dengan ditunjukkannya ibadah kita, maka akan menaikkan kualitas dari nilai ibadah tersebut. Sudah saatnya bagi kita semua untuk memperlihatkan dan menunjukkan pelaksanaan ibadah agar disebut orang yang taat dan bertaqwa. Dimulai dari akan beribadah, sudah harus diniatkan untuk memperlihatkannya. Pada saat melakukannya, berusahalah apa yang kita lakukan dilihat. Lakukan secermat-cermatnya hingga semua proses ibadah itu diperhatikan. Setelah selesai, nyatakan sekuat-kuatnya bahwa kita selesai beribadah. Perlihatkan ibadah kita....... ....... Perlihatkanlah kepada ALLAH SWT. Hanya kepada ALLAH. Berusahalah untuk menunjukkan, memperlihatkan, mempertontonkan ibadah kita kepada ALLAH. Tunjukkan yang terbaik yang bisa kita lakukan pada saat beribadah. Tunjukkan bahwa tidak ada aktifitas lain yang kita lakukan, tidak ada tujuan yang kita maksudkan, tiada keinginan lain

Episode Hari

“Untung bisa menghindar (lho?). Kalau tidak, aku sudah masuk lobang”, batinku berucap. Klasik! Tidur terlalu larut. Habis sholat shubuh nambah tidur. Bangun kesiangan. Kupacu motorku menembus hiruk pikuknya jalan raya. Kalau seandainya pada kedua tanganku adalah handle gas, mungkin kedua-duanya sudah kutarik habis. Sesampainya di tempat kerja, seseorang yang sebelumnya telah berjanji bertemu denganku masih menunggu. “Untung aku ngebut tadi (lho!). Kalau tidak, sudah pergi dia”, kembali batinku berucap. Dalam pertemuan, terjadi sesuatu yang sangat tidak diharapkan. Proyektor untuk presentasi tidak bisa dipakai! Mati Total! Bagian Rumah Tangga kalang kabut berusaha memperbaiki proyektor tersebut. Segera kubawa televisi 29 inch dari bagian perbaikan dan kuhubungkan laptop ke televisi tersebut. Beres! “Untung ada televisi (lho koq!). Kalau tidak, gagal presentasi yang sudah kususun tadi malam.” Menjelang siang, pertemuan selesai. Tidak ke tempat ruangan kerjaku, aku keluar kantor dengan mo

Selamat Datang di Dunia Orang Mati

By : Eman Kaki melangkah menyusuri jalan Secara pasti walau perlahan Sangat hati-hati dengan nafas tertahan Mencari makna Dzat yang disebut Tuhan Mendapati diriku pada suatu tempat Bangunan menjulang saling rapat Seakan diri telah tersesat Kesadaran diri hilang sesaat Anak-anak bersenda gurau Pekerja lalu lalang tanpa hirau Para pedagang saling meracau Kehidupan dunia telah sangat memukau Mereka makan nasi dan roti Tanpa dzikir di dalam hati Bekerja tiada henti Sampai-sampai lupa suatu saat akan mati Sebaris kalimat terlihat pasti Sepintas membuat hati menjadi ngeri Ahh…. Akhirnya aku mengerti “Selamat datang di dunia orang mati”

Hanya Sedikit

Pak Pandai adalah julukannya. Sebenarnya ia adalah seorang guru, syaikh, atau sebutan lainnya, pada sebuah pesantren miliknya. Ketika sedang asyik memperhatikan kegiatan santri-santrinya sambil menghisap rokok kegemarannya, seorang santri menghampirinya dan bertanya: “Guru, bukankan dalam banyak mazhab fiqh menetapkan bahwa merokok itu haram hukumnya?” “Benar. Tetapi sebagian ulama masih menyatakan bahwa hukumnya makruh”, jawab Pak Pandai santai. “Dalam satu kesempatan, guru pernah menyatakan bahwa salah satu akar kata dari makruh adalah karahah, yang artinya terpaksa.” “Apa keadaan yang memaksa kita, sehingga kita diperbolehkan merokok?” “Ya, dalam hal ini kita cukup mengambil arti umum dari makruh”, jawab Pak Pandai. “Maksudnya apa, guru?” “Seperti yang telah umum diketahui bahwa makruh adalah apabila dilaksanakan tidak mengapa, apabila ditinggalkan dapat pahala.” “Bukankah lebih baik kita dapat pahala?” tanya santri itu dengan cepat. “Tetapi khan tidak mengapa apabila dilakukan”, ja

Jangan Pernah Tersenyum, Kalau .............

“Kenapa sih senyum termasuk ibadah, pak?” tanya anakku. Degggg!!!!!!!!! Gada kebodohan menghantam hatiku. Galau melimbahi perasaanku. Seketika hilang keyakinanku akan apa yang sudah aku lakukan. Anakku yang baru kelas 4 SD, menanyakan sesuatu yang tidak pernah aku sangka, bahkan duga. Pertanyaan yang sepele, tetapi seperti gelegak magma yang menghancurkan dinding-dinding keyakinan hatiku. Senyum adalah hal yang biasa aku lakukan, tetapi hempasan pertanyaan itu seperti melemparkanku pada palung kehampaan yang disusul oleh deburan-deburan pertanyaan ”Apakah selama ini senyum yang biasa kulakukan termasuk ibadah?” Apakah senyum yang aku lemparkan pada sahabatku adalah senyum yang bukan dikarenakan aku mengharapkan pertolongan darinya pada saat aku susah? Apakah senyum yang aku lemparkan pada orang kaya adalah senyum yang bukan karena ketertundukanku pada harta mereka? Apakah senyum yang aku lemparkan pada orang miskin adalah senyum yang bukan karena merasa mempunyai harta berlebih? Apakah

Hari Pertama di Kelas Pertama

Malam ini saya bertemu dengan diri saya. Saya melihatnya sedang terbaring, tidur nyenyak dengan posisi miring ke kiri. Tarikan nafasnya yang teratur, tidak memperdulikan gegap gempita dunia malam di luar sana yang hingar bingar dengan kemaksiatan. Tidak lama kemudian dia pun berbalik arah menjadi posisi miring kanan. Sedikit menggumam sesuatu yang tidak jelas didengar. Tarikan nafasnya kembali teratur, tidur dengan nyenyaknya, tanpa ikut menikmati para pemburu ridho Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang telah tenggelam sedalam-dalamnya dalam lautan khusyu sujud diatas hamparan sajadah. Derum sebuah sepeda motor melintas di depan rumah seakan membuatnya terjaga. Tetapi tidak! Dia hanya merubah posisi tidurnya menjadi terlungkup memunggungi saya. Kali ini tarikan nafasnya sangat kuat. Mungkin karena dadanya meminta udara yang lebih banyak. Tetapi tetap tidur dengan nyenyak. Apakah dia mengetahui bahwa bumi yang sedang dihadapi sekarang berisi milyaran manusia yang terkubur didalamnya