Langsung ke konten utama

Hari Pertama di Kelas Pertama

Malam ini saya bertemu dengan diri saya. Saya melihatnya sedang terbaring, tidur nyenyak dengan posisi miring ke kiri.
Tarikan nafasnya yang teratur, tidak memperdulikan gegap gempita dunia malam di luar sana yang hingar bingar dengan kemaksiatan.

Tidak lama kemudian dia pun berbalik arah menjadi posisi miring kanan.
Sedikit menggumam sesuatu yang tidak jelas didengar.
Tarikan nafasnya kembali teratur, tidur dengan nyenyaknya, tanpa ikut menikmati para pemburu ridho Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang telah tenggelam sedalam-dalamnya dalam lautan khusyu sujud diatas hamparan sajadah.

Derum sebuah sepeda motor melintas di depan rumah seakan membuatnya terjaga.
Tetapi tidak!
Dia hanya merubah posisi tidurnya menjadi terlungkup memunggungi saya.
Kali ini tarikan nafasnya sangat kuat. Mungkin karena dadanya meminta udara yang lebih banyak. Tetapi tetap tidur dengan nyenyak.
Apakah dia mengetahui bahwa bumi yang sedang dihadapi sekarang berisi milyaran manusia yang terkubur didalamnya sedang menikmati tabungan yang dikumpulkannya pada saat mereka di dunia?

Kepengapan membuatnya tidak lama terlungkup. Kali ini dia terlentang, menghadap ke atas.
Atas? Ya, atas! Sebuah tempat yang tidak saya fahami. Yang saya tahu, atas adalah suatu ruang kemulyaan. Suatu anggapan manusia akan tempat yang lebih spesial dari apa yang dipunyai olehnya.
Kali ini nafas diri saya kembali teratur, normal, bahkan cenderung tidak terdengar. Sepertinya dia sedang terpana karena mengetahui ketidaktahuannya. Kebodohannya. Ketidakmampuannya. Kemanusiaannya
Kasihan dia……

Sayup-sayup terdengar suara orang membaca Al Qur-an di masjid At Taqwa di dekat rumah. Menjelang adzan Subuh rupanya!
Saya harus bersiap dikembalikan ke dalam diri saya, disertai harapan penuh semoga Yang Maha Pencipta membuat saya dan diri saya menjadi lebih baik dari malam ini……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...