Langsung ke konten utama

The Self Medicate of Cantengan

Cantengan?????

Gak keren banget.... Punya penyakit koq cantengan..... mana bau lagi.... Oeekkkk....

Makanya punya kaki tuh dibersihin......

Hehehe....

Itu kalimat yang pernah penulis terima, saat mengalami sakit "keren" ini.

Apa itu cantengan?

Cantengan adalah kondisi dimana terjadinya pembengkakan pada kuku kaki atau tangan. Rasa nyeri yang amat sangat apabila sudah terbentuk nanah pada tempat yang bengkak. Orang jaman dahulu biasanya merendam tempat yang sakit dengan air hangat dicampur garam untuk mengobati atau mengurangi rasa sakit.

Cantengan bisa diakibatkan oleh pertumbuhan kuku ke arah dalam hingga menusuk kulit, atau gegara memotong kuku yang tidak rapi pada bagian pinggirnya sehingga berbentuk lancip dan tajam saat tumbuh kembali.

Hal lain lagi yang dialami oleh penulis. Sebab dari cantengan ini dikarenakan tangan terlalu aktif. Sebagai motoris, adalah sudah nasibnya kalau "panas ga kehujanan, hujan ga kepanasan". Bila hujan turun, maka keluar perlengkapan tempur menembus hujan, jas hujan dan sandal jepit.

Sandal jepit?

Yup, sayang sepatu dong kalau dipakai hujan-hujanan. Dengan sandal jepit yang terbuat dari karet, maka ga khawatir bakalan segera rusak karena basah air hujan. Juga tidak terlalu terasa dingin bila terkena air hujan.

Adakalanya di beberapa tempat terjadi genangan air yang lumayan dalam. Entah itu berasal dari air hujan yang tidak tertampung, atau malah air dari saluran got/selokan yang meluap ke jalan. Air yang keruh pastinya, bercampur dengan sampah melimpah ke jalan. Kadang kedalaman genangan bisa mencapai 10-15 cm.

Dengan mengendarai "motor cowok" yang "ground clearance' nya tinggi, genangan air segitu mah ga ngefek lah. Pasang gas kenceng, gigi 2 aja lah cukup buat jaga-jaga, terus ngacir. Dilibas dan labas lah jalanan, sambil nyengirin para pengendara motor yang ga berani menembus genangan. Air bermuncratan ke arah kiri kanan motor ditebas ban motor. Berasa kayak superhero (lebay, hehehe...)

Image from Pixabay

Sesampainya di tujuan kaki pastinya kotor penuh lumpur yang menempel. Termasuk di sela-sela antara kuku dan kulit jari kaki. Saat dibersihkan, biasanya kotoran di sela-sela itu masih tertinggal. Apalagi yang jauh masuk kedalam, disikat pun ga hilang. Difikir akan hilang seiring berjalannya waktu, ternyata malah bikin kaki bengkak kemerahan. Perih rasanya. Ditengok ya ternyata karena kotoran yang tertinggal itu. Akhirnya jadi keisengan tersendiri.

Ambil gunting kuku, buka bagian pisaunya yang berujung runcing, korek kotoran yang masih tertinggal di pinggiran kuku. Asyik sih, sambil dicium baunya yang gimana gitu.

Awalnya ga masalah, tetapi begitu 2 minggu kemudian bentuk kuku jadi "grepesan" (berantakan) di bagian pinggir. Ga rata lagi. Menciptakan lubang di pinggiran kuku dan kulit, sehingga semakin mudahnya kotoran masuk ke sela-sela kuku.

Karena ga tahu efek jauh kedepannya, tetap aja itu lubang dikorek-korek lagi untuk mengeluarkan kotoran dari dalamnya. Maka semakin parahlah bentuk kuku, hancur ga keruan. Ditambah bengkak kemerahan dan rasa nyeri senut-senut. Terlebih lagi baunya yang "sensasional"itu loh. Bikin mual orang lain.

Inilah problemnya. Cantengan!

Akibat tangan usil, jadinya jempol cantengan. Direndam pakai air hangat dicampur garam, tetap aja masih berasa nyeri. Apalagi harus rendam kaki dalam beberapa waktu, ga ngapa-ngapain. Selain bosan, paling kulit pada keriput kena air. Hehehe...

Bosan merendam kaki, juga pakai obat tetes yang ga bikin sembuh, cari-cari lah informasi dari koran-koran dan majalah (mbah google belum lahir saat itu). Ga nemu juga.

Baca-baca tempelan pada kemasan, isi dari obat salep yang dipakai ternyata mengandung belerang. Dengan otak bodoh penulis, kan urine (air pipis) kita juga ada kandungan amonia yang juga pastinya ada kandungan belerangnya. Dan biasanya urine saat kita baru bangun tidur dipagi hari, kandungan amonianya pasti lebih tinggi, makanya lebih pesing. Hehehe...

Eksperimen pun dilakukan. Setiap pagi bangun tidur, saat buang air kecil, prosesi pemandian si jempol cantengan pun dilakukan. Dalam hitungan 60 detik, si jempol dibiarkan berlumuran "hmm'. Setelah itu dibilas bersih. Harus bersih ya, karena si "hmm" itu termasuk najis.

3 hari rutin mr. jempol cantengan diguyur, terasa nyeri yang senut-senut berkurang. Lanjut sepekan, rasa nyeri hilang. Alhamdulillah, bengkak pun mengecil, yang lama kelamaan sembuh. Tapi lubang di kuku masih belum sembuh tentunya.

Sekian lama si jempol diguyur walau ga lagi nyeri, lubang di kuku pun berangsur tertutup oleh pertumbuhan kuku baru walau masih belum mulus, bentuk permukaan kuku bergelombang. Minimal sudah ga kena gangguan cantengan lagi lah. Kapok dah ngotak-ngatik kuku, ga lagi-lagi.

Demikian pembaca yang budiman, itu sekilas mengobati cantengan dengan urine pagi hari. Ini hanya pengalaman penulis, bukan anjuran ya. Andai ada yang juga melakukan ini, gegara baca tulisan ini, resiko tanggung jawab sendiri ya. Jangan bawa-bawa penulis, hehehe...

DO IT AT YOUR OWN RISK

Btw, katanya sih urine pagi juga dipercaya ampuh buat obat jerawat, dan memperhalus wajah lho. Juga buat mengurangi tumbuhnya varises. Katanya lho, penulis belum membuktikan sendiri.

Gitu aja.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...