Langsung ke konten utama

Tafakur Diri (Bagian - 1)

By : Eman

Lihatlah manusia yang berlalu lalang, lihatlah pada diri sendiri. Apakah kita menyadari bahwa tadinya manusia hanyalah noktah sperma yang sangat sangat kecil dalam selubung air mani?

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur,…… (AQ – 76 : 2)

Titik yang kemudian berkembang menjadi manusia sempurna dengan susunan tubuh yang seimbang.

“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,”
“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
(AQ – 82 : 7-8)


Dan kemudian setelah dapat berjalan dan merasa telah menguasai bumi, manusia pun menjadi sombong, seakan-akan dirinyalah yang paling hebat daripada manusia lainnya. Merasa paling pintar, paling kaya, paling sholih, paling taat, paling beribadah, dan paling-paling lainnya.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (AQ – 17 : 37)

Mereka telah lupa pada asalnya, dan telah lupa bahwa tadinya mereka adalah sesuatu yang berenang-renang dalam air mani. Sesuatu yang apabila terpancar dari hasil “mimpi basah”, yang mana si pemiliknya akan berkata “yaaaahhhh…..” disertai rasa kecewa karena harus mandi junub, selanjutnya celana yang telah tertempel sesuatu itupun akan dilempar ke tempat cucian kotor oleh pemiliknya dengan rasa jijik. Sesuatu yang dihinakan. Sesuatu itulah yang merupakan salah satu bahan dasar ALLAH ciptakan manusia.

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (AQ – 77 : 20)

Maka masihkah manusia belum menyadari?

WALLAHU A’LAM

(Bersambung...)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...

Punuk (Guru)

Dalam banyak majlis atau organisasi, jumlah murid, jamaah atau pengikut merupakan tolok ukur dari keberhasilan atau kebesarannya. Seringkali jumlah menjadi kebanggaan dan kesombongan. Hal ini juga bagi banyak orang menjadi dasar bagus tidaknya majlis itu. Dalam "kata singkat" : kuantitas menentukan kualitas, jumlah adalah jaminan mutu. Murid adalah seseorang yang diakui oleh seorang guru untuk mempelajari ilmu yang diajarkannya. Murid wajib mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya dalam melakukan olah ilmu yang diberikan agar tidak menyalahi jalan yang sudah ada. Murid adalah bentukan gurunya, maka bagaimanapun bentuk laku dari murid merupakan cerminan apa yang diajarkan oleh gurunya. Walaupun tidak terlepas dari adanya pengaruh lainnya, dominasi ajaran gurunya tetap yang menjadi anutan bagi seorang murid. Diperlukan usaha yang ekstra keras bagi seorang guru agar muridnya tidak menyimpang arah. Dalam tingkatan inilah yang harus diperhatikan oleh seorang guru. Baik b...