Langsung ke konten utama

Selamat Memperingati Maulid Nabi 1442 H

Menurut saya pribadi sih ingat ke Nabi Muhammad SAW itu wajib.

Tapi ingat apanya....? 

Wajahnya? Postur tubuhnya? Beliau ga ada foto, lukisan, gambar......

Khutbahnya? Ceramahnya? Tutur katanya? Orang sekarang ga ada yang pernah bertemu beliau.....

Saya "relate" ke beliau melalui orang tua, ustadz, guru, ulama, atau orang-orang yang bercerita tentang betapa agungnya beliau.

Ada yang lebih beruntung, langsung dari hasil mempelajari Al Qur-an dan hadits-hadits beliau. Belajar dari bahasa aslinya, grammarnya, tata bahasanya.... (Itu juga pastinya belajarnya ke guru atau ustadz dulu......Ga langsung begitu aja bisa....)

Bukan dari buku terjemahan, karena buku terjemahan itu hasil dari ulama yang telah mempelajari bahasanya secara langsung. Jadi tetap aja yang belajar cuma pakai terjemahan, berarti belajarnya dari ustadz atau ulama yang telah menterjemahkan. Itu menurut saya.

Balik lagi ke masalah "ingat ke Nabi Muhammad SAW"



Dari ucapan-ucapan orang yang lebih tua dan juga yang lebih tau, saya dapat wawasan mengenai beliau. Pribadi beliau, peri kehidupan beliau, masa kecil dan masa dewasa beliau, perjuangan beliau, keluarga beliau, sahabat-sahabat, dan banyak lagi.

Salah satu momen saya mendapat wawasan mengenai beliau, pada saat menghadiri ceramah, tausiyyah, atau tabligh yang biasanya dikaitkan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yaitu Maulid Nabi. Setelah sekian hari, sekian bulan dalam kesibukan rutinitas harian, lumayan di"refresh" dengan ceramah tentang Nabi.

Di acara itu biasanya penceramah atau mubaligh nya menyampaikan hikmah dan kisah mengenai beliau. Isinya memang banyak tentang betapa agungnya pribadi beliau, tetapi ga ada yang berlebihan. Juga ga ada yang menyamakan beliau dengan Allah. Kalau dibilang beliau lebih dari manusia lainnya, ya pastinya begitu. Lah kaki sudah bengkak-bengkak aja, beliau masih terus sholat sunah. Kita mah kena asam urat dikit aja langsung alesan. Belum lagi hal yang lain dari perilaku mulia beliau.

Yang saya ketahui, Nabi lahir pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Kemudian tanggal kelahiran beliau ini dijadikan momentum untuk mengumpulkan umat agar mendapatkan tausiyyah, pencerahan mengenai agama, khususnya perihal Nabi. Makanya banyak yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi di luar tanggal 12 Rabi'ul Awwal itu. Tanggal Maulid itu cuma sebagai momentum aja, background aja, untuk mengadakan acara pemberian ceramah kepada umat.

Seperti setiap tanggal 17 Ramadhan, diadakan peringatan Nuzulul Qur-an. Diadakannya acara pada malam atau hari itu. Acaranya ya tausiyyah. Ada juga yang mengadakan pentas seni, bazar, dll. Nuzulul Qur-an adalah momentumnya, agar umat diberikan pengingat kembali kepada kitab suci yang Allah turunkan. Untuk me-refresh umat agar selalu dekat, membaca, dan melaksanakan perintah-perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur-an.

Al Qur-an

Dahulu malam Jum'at identik dengan malam sakral buat umat Islam. Banyak diadakan pengajian di masjid, musholla, surau, maupun di kediaman warga. Kegiatan selain pengajian, ditinggal, dan bagi umat saat itu rasanya janggal bila melakukan aktifitas di luar rumah selain pengajian saat malam Jum'at. Bahkan acara televisi saat itu pastinya ada acara khusus bagi umat Islam, ceramah agama Islam. Pernah ada stasiun televisi yang menayangkan acara-acara horor di saat malam Jum'at, maka umat protes kepada pemerintah perihal itu. Itu dikarenakan pihak penayang seakan mengotori mindset malam Jum'at sebagai malam sakral umat Islam.

Malam Jum'at hanya sebagai momentum saja agar umat kembali mengingat status dirinya sebagai umat Islam, juga sekalian dalam menghadapi hari besar bagi umat Islam esok harinya, dimana para muslim pria berkumpul di masjid-masjid untuk mendirikan sholat Jum'at di siang harinya.

1 Januari banyak yang tahun baruan. Masang petasan, kembang api, tiup terompet. Trus ada yang bilang, daripada begitu mending dipakai yang bermanfaat. Akhirnya ada yang ngadain tabligh akbar, ceramahan, tausiyyahan... 1 Januari cuma backgroundnya aja. Maksudnya daripada ngelakuin yang ga manfaat menurut agama. Dibikinnya acara yang bernuansa agama, ya ceramahan....

Seperti tanggal 21 April hari lahir Kartini sebagai hari Kartini, 2 Mei kelahiran Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional, bahkan hari berdirinya sebuah organisasi juga dijadikan hari nasional, yaitu Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei yang merupakan tanggal berdirinya Organisasi Boedi Oetomo.


Di tanggal-tanggal itu juga banyak diadakan acara terkait dengan figur atau tokoh atau hal tersebut. Seperti pada Hari Kartini, banyak yang mengadakan acara2, berkebaya atau berpakaian adat, atau lainnya. Ada juga yang melakukan seminar, simposium, pertemuan, ceramahan, atau apapun itu.

Ga ada yang mewajibkan mengadakan acara peringatan maulid Nabi. Dasarnya hanyalah momentum. Mumpung ada momen buat ngumpulin umat, buat dapat siraman rohani. Yang jelas peringatan maulid Nabi ini, bukan bagian khusus ibadah yang sudah diatur dalam Islam. Juga bukan buat ngada-ngadain atau nambah-nambahin ibadah. Makanya ga wajib. Ngadain ga ngadain, terserah... Mau gede mau kecil. Ga ada biaya, ya ga ngadain. Kalau ada biaya, ya silakan...

Masalah yang ngeluarin duit, yang ngadain, yang datang, yang ceramah, yang bersih-bersih, dapat pahala atau ga mah jangan dipersoalkan. Itu jelas hak nya Allah. Mau percaya dapat pahala ya silakan. Ga percaya ya terserah. Lagipula itukan tergantung niatnya di acara itu. Niatnya baik ya dapat baik juga. Niat buat keduniaan ya dapatnya apa yang dia niatkan.

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...