Langsung ke konten utama

Menggadaikan Persaksian


Banyak orang menyebut tanggal 25 Desember sebagai “hari natal”, termasuk didalamnya orang yang beragama Islam. Padahal kalau dilihat dari arti dan maksud penyebutan itu, maka sangat terlarang bagi seorang muslim melalukan penyebutan itu, dikarenakan:

1. “hari natal” dimaksudkan sebagai perayaan umat kristian untuk kelahiran yesus sebagai tuhan mereka.

2. Andaipun disebutkan bahwa yesus itu adalah Nabi Isa, maka tanggal 25 Desember itu tidak mungkin kelahiran Nabi Isa, karena kurma berbuah pada saat musim panas (kira-kira bulan Maret s/d Oktober), sebagaimana kabar yang paling shahih bagi umat Islam, yaitu Al Qur-an, Surah Maryam (19) : 23-25

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan".

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.  




Maka bila ada orang Islam sudah mengerti/ mengetahui pada 2 hal diatas, dan masih menyebut tanggal 25 Desember sebagai “hari natal”, maka ia telah :

1. Mengakui hari itu adalah hari kelahiran “tuhan”.

2. Menolak firman Allah mengenai saat kelahiran Nabi Isa.

Dengan 2 hal diatas saja, maka patut dipertanyakan ke-Islam-an orang Islam yang melakukan hal tersebut.

Dengan dalih” toleransi”, banyak pula orang Islam pada sekitar tanggal itu mengucapkan “selamat natal” kepada rekan atau tetangganya yang kristian, karena hal itu cuma dianggap “sekedar ucapan”.

Kalau memang “sekedar ucapan” itu tidak dianggap berpengaruh kepada eksistensi keimanan, maka silakan ditanyakan kepada orang kristian kesediaannya untuk mengucapkan 2 kalimat Syahadat, yang merupakan tanda penyerahan dirinya secara total kembali kepada Islam.

Wallahu a'lam



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...