Langsung ke konten utama

Renungan Romadhon 1434H



Sudah masuk bulan Romadhon lagi. Tahun 1434H.

Apakah kita masih saja sibuk menyiapkan perlengkapan mudik lebaran, dibanding mempergunakan waktu spesial ini untuk menyiapkan perbekalan untuk hari akhir nanti?

Apakah kita masih saja sibuk memikirkan hidangan apa untuk lebaran nanti, dibanding mempergunakan kesempatan yang besar ini untuk menambah tabungan amal yang akan kita hidangkan di hadapan Hakim Yang Maha Adil?

Apakah kita masih saja sibuk memilih-milih pakaian untuk lebaran agar terlihat gaya saat lebaran nanti, dibanding mempergunakan kemuliaan bulan ini untuk memperbaiki sehelai keimanan yang itupun sudah terkoyak disana sini?

Apakah kita masih saja sibuk mempermegah rumah agar terlihat hebat saat dikunjungi tetangga dan kerabat saat lebaran nanti, dibanding mempergunakan keindahan Romadhon ini untuk memperindah akhlaq yang telah semakin lusuh diterpa kejahatan yang kita sendiri perbuat?

Apakah kita masih saja sibuk meramaikan bulan ini dengan hura-hura dan kemubaziran, dibanding mempergunakan hari-hari besar ini dengan meramaikan hati kita hanyut dalam dzikir dan baca Al Qur-an.

Apakah Romadhon kita masih selalu begitu, dan tidak berubah menuju kearah perbaikan?

Masihkah kita perlakukan Romadhon hanya sekedar sebagai jembatan menuju lebaran?

Wallahu A’lam

-----

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...