Langsung ke konten utama

Tunduk Dan Patuh Kepada Rambu Allah

Lihatlah rambu lalu lintas dibawah ini :



Orang tidak akan melalui jalan dari arah depan rambu ini. Bukan karena takut kepada rambunya, tetapi kepada hukum yang menjadi isi dari rambu tersebut. Hukum yang terkandung pada rambu itu menuntut kita taat dan patuh agar kita aman dan selamat dalam perjalanan juga tidak mennyebabkan timbulnya resiko dan kesulitan. Bila kita berani melanggar rambu ini, maka tentu kita harus siap menghadapi akibat dari pelanggaran kita ini. Mulai dari kena tilang polisi hingga resiko kehilangan nyawa. 


Hal diatas adalah sekedar gambaran betapa pentingnya mematuhi rambu-rambu yang telah ada. Terlebih dengan rambu-rambu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Tidak hanya selamat di perjalanan dunia, juga di perjalanan menuju akhirat. Rambu-rambu seperti : wajib sholat, wajib shaum, wajib dzakat, melarang berjudi, minum khamr, mencuri, dan lain lain, yang tercantum dalam Al Quran dan Hadits  Implikasi dari pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah akan berakibat diceburkannya manusia ke dalam neraka, dan ketaatan akan berakibat manusia dikaruniai surga.

Bagi manusia, neraka adalah tempat kesulitan yang tak berkesudahan, sedangkan surga adalah tempat kebahagiaan yang abadi. Sehingga sebagian manusia beranggapan bahwa ia beribadah semata agar terhindar dari neraka, dan berhak atas surga. Ia takut akan neraka, dan takut tidak masuk surga. Ia beribadah karena dua makhluq ini. Ia terlupa bahwa ketakutannya dan pengharapannya itu kepada makhluq. Ia terlupa untuk takut kepada Khaliq Pencipta dari kedua makhluq itu. Secara tidak sadar ia akhirnya telah menjadikan kedua makhluq ini sebagai landasan mengapa ia beribadah.

Dalam Hadits Qudsi, bersabda Rasulullah SAW :

Kelak pada hari qiyamat akan didatangkan beberapa buku yang telah disegel, lalu dihadapkan kepada Allah SWT.
(Pada waktu itu) Allah berfirman: “Buanglah ini semuanya.”
Malaikat berkata: “Demi kekuasaan Engkau, kami tidak melihat di dalamnya melainkan yang baik-baik saja.”
Selanjutnya Allah berfirman : “Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karena-Ku, dan Aku sesungguhnya tidak akan menerima kecuali apa-apa yang dilaksanakan karena mencari keridhoan-Ku.”
(H.Q.R. Bazzar dan Thabarani)

Dalam hadits qudsi lainnya yang senada, Rasulullah SAW bersabda :

Apabila seseorang beramal beberapa amalan yang baik, para malaikat naik membawanya dalam satu buku yang disegel. Buku itu diletakkan di hadapan Allah swt.
Allah berfirman : “Buanglah buku-buku ini, karena amalan ini dilakukan bukan karena Aku.”
Kemudian Dia memanggil malaikat: “Tulislah baginya begini dan begini. Tulislah baginya begini dan begini.”
Malaikat menyahut: “Ya Rabbana, sesungguhnya dia tidak pernah melakukan yang demikian itu.”
Allah berfirman : “Itu adalah pahala terhadap amal yang pernah ia niatkan.”
(H.Q.R Daruquthni dari Anas r.a.)

Allah mempertakuti manusia dengan siksaannya, yang dalam hal ini adalah neraka. Sejatinya, bukan nerakanya yang harus ditakuti oleh manusia, tetapi Pemilik neraka lah yang harus ditakuti, karena hanya Allah yang berkuasa atas neraka.

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.”
Az Zumar (39) : 16

Terlihat dalam ayat diatas, azab neraka adalah sarana Allah untuk mempertakuti manusia. Tetapi kembalinya adalah kita harus bertakwa kepada Pemilik azab itu. Takutlah dan berharaplah hanya kepada Allah, karena surga, neraka, kebaikan, kemudharatan, semuanya bersumber dari Allah.

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Yunus (10) : 107

Harus difahami bahwa surga dan neraka tidak akan mengabulkan keinginan kita. Keduanya tidak akan pernah merespon ibadah dan do’a kita. Tetapi Pemilik keduanya lah yang akan mengabulkan dan merespon ibadah dan do’a kita. Surga dan neraka seharusnya bukanlah menjadi tujuan ibadah kita. Hanya ALLAH yang menjadi tujuan, dan ke-ridho-an NYA lah yang kita harapkan.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Al Bayyinah (98) : 5

Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya".
Al A’raaf (7) : 29

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".
Al Kahfi (18) : 110

-------------------------------------------
 
Lalu, apakah salah bila kita berdo’a agar terhindar dari api neraka, dan mengharapkan surga?

Pertanyaan ini pada hakikatnya tidak terkait dengan penggambaran diatas. Pertanyaan ini bertitik berat pada hal berdo’a, bukan ketakutan kepada neraka dan pengharapan akan surga. Surga dan neraka dalam hal ini adalah materi do’a, bukan inti do’a yang adalah merupakan alasan mengapa kita berdo’a. Sehingga tentunya jawaban pertanyaan ini adalah “tidak salah”, karena kita berdo’a disebabkan rasa takut kita kepada Pemilik keduanya. Kelihatan bedanya, kan?

Allah berfirman :

“….. berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).”
Al A’raaf (7) : 56

Segala sesuatu perbuatan tergantung niatnya, dan ia akan mendapatkan apa yang diniatkannya.

Wallahu a'lam

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Ber-Shodaqoh Bisa Dengan Bermacam Cara

Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma'rufmu serta nahi munkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu yang merupakan shadaqah. (H.R. Bukhari)

Ramuan Kenikmatan

Bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi saya yang terbiasa makan di warteg, kesempatan makan nasi padang merupakan hal yang berbeda.Seminggu sekali pada hari raya umat Islam, yaitu hari Jumat, saya menyempatkan makan di salah satu warung nasi padang pilihan. Rendang yang sejatinya adalah daging jua , dirasa nikmat dalam kunyahan. Saat merasakan setiap kunyahan rendang itu, saya bertafakur bahwa mengapa kita tidak dapat menikmati ibadah sebagaimana menikmati rendang ini. Kenikmatan rendang tidaklah semata-mata datang begitu saja, tetapi ada proses yang dilalui. Rendang memang menu yang lumrah di setiap warung nasi padang, tetapi tidak semua warung nasi padang dapat menyajikan kenikmatan rasa yang sama. Ketelitian memilih daging, ketepatan bumbu, dan kesabaran meraciknya merupakan proses yang biasa menjadi hasil yang luar biasa. Ambil contoh SHOLAT…. Banyak dari kita melakukan sholat, tetapi tidak sedikit yang tidak bisa mendapatkan kenikmatannya. Tiada yan...

Noda di Dahi

Bila berjalan dengan noda/ kotoran di dahi, tidak dapat kita melihatnya kecuali dengan cermin. Tetapi orang lain akan melihat jelas noda di dahi itu, dan akan memberitahu adanya noda itu. Dengan keragaman macam manusia, cara memberitahu juga akan bermacam cara. Ada yang dengan cara yang baik, ada juga dengan cara yang tidak baik. Sebagian orang dengan sopan memberitahu adanya noda itu, bahkan hingga menawari secarik kain untuk membersihkannya. Sebagian lagi dengan cara cukup tersenyum, menertawai, bahkan hingga menghina menganggap bodoh berjalan dengan noda di dahi. Kita akan senang dengan cara memberitahu yang baik, tetapi sebaliknya dengan cara memberitahu yang buruk, kita dengan segera marah. Kita merasa tidak berhak ditertawai, atau dihina karena berjalan dengan noda di dahi. Biar bagaimanapun tidak sepantasnya kita segera menanggapi dengan marah. Seharusnya periksa diri kita dahulu sebelum marah. Kita lihat baik-baik apa yang terjadi dengan diri sendiri sehingga orang...